Senin, 08 November 2010

Perjalanan Cinta bgai daun , angin , dan pohon

~DAUN
Aku adalah daun. Ya daun, aku yang rapuh. Aku yang mudah goyah karena kerapuhanku. Dalam kehidupanku, akulah daun yang sangat bergantung pada pohon, pohon yang menghiasi kehidupanku dengan cintanya, pohon yang menyokongku untuk hidup, menikmati kehidupan ini. dan suatu hari, datanglah hari dimana aku jenuh akan kehidupan pohon, cinta dari pohon yang selalu ku banggakan. Aku jenuh pada pohon. Walau pun pohon yang kucintai. Aku tetap sebuah daun yang rapuh. Sekuat apapun pohon menyokongnya.
Kejenuhanku tibalah saat klimaksnya, dimana Angin serasa mengajakku untuk meninggalkan pohon. Aku terbuai akan angin yang lembut, yang selalu menghampiriku. Angin yang selalu melambai-lambai, yang menggoyahkan ku untuk melupakan pohon yang selama ini kucintai. Kejenuhan yang tibanya bersamaan dengan angin datang dalam kehidupanku.
Ketika aku sadar, ternyata aku lebih mencintai pohon yang sudah lama kucintai. Tetapi pesona angin juga tidak pernah membuyarkanku, aku juga tidak ingin melepaskanya.
Aku tidak ingin melukai pohon dan angin. Hingga tiba masa itu..masa dimana cerita ini harus kuputuskan.

~POHON
Aku pohon. Ya, akulah pohon yang sangat mencintai daun. Aku yang selalu menyokong daun untuk hidup dengan cintaku. Aku sangat mencintai daun. Daun yang selalu ku cintai sampai kapanpun. Aku selalu memberi apa yang Ia butuhkan. Aku memberinya kehidupan dengan kasih sayang. Dan aku tidak pernah melewatkan waktu untuk tidak mencintainya.
Dan tibalah waktu, aku harus menyadari. Bahwa cinta yang kuberi bukanlah hal yang Ia inginkan. Ia jenuh dengan cintaku selama ini. Mungkin Ia tidak membutuhkan dukunganku sebagai pohon. Cintaku membuatnya jenuh. Ternyata selama ini aku salah.
Suatu hari, datanglah Angin dalam kehidupan pohon dan daun. Angin yang lembut, yang selalu menghampiri aku dan daun. Aku sebagai pohon terpesona dengan kelembutan angin. Aku tahu, daun yang kucintai juga pasti merasakan apa yang ku rasakan. Aku tidak pernah iri dengan Angin yang lembut ini.
Hingga aku berpikir, apakah aku bisa merelakan daunku untuk terbawa angin? Jika itu dapat membuat daun yang kucintai bahagia. Aku akan merelakannya. Walau pun aku harus meminta pada angin untuk memcintai daunku, membawa daunku yang sudah lama aku menjaganya dengan cintaku.
Tetapi, keinginanku buyar karena kejadian yang mengakhiri semua ini.

~ANGIN
Aku lah angin itu. Aku lah angin yang lembut. Aku yang lembut menghampiri pohon dan daun. Aku menghampiri karena aku melihat ketertarikanku pada daun yang rapuh.
Aku tertarik pada daun yang membuatku jatuh cinta saat pertama menghampirinya. Aku melihat daun yang membutuhkan cinta. Dan aku bersedia memberinya cinta. Aku masih tetap berpikir untuk memberinya cinta. Dan tanpa mengetahui keberadaan pohon yang sudah mencintainya dari awal.
Tapi, saat aku melihat pohon yang begitu mencintai daun. Aku mulai goyah. Aku tidak mungkin meraih daun yang susah payah pohon menyokongnya dengan cintanya yang tulus. Pohon yang sangat setia. Pohon mencintainya tanpa perduli bahwa daun sudah jenuh akan cinta pohon. Ia tetap memberikan cinta itu.
Dan aku pun goyah melihat cinta ini. Hingga tiba saat dimana mataku terbuka..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar