Sherrin terus menerus menatap pintu, seolah sedang menanti seseorang.Seolah sedang menunggu dan berharap akan ada yang datang dan segera menemuinya. Itu mungkin yang terlihat, tapi sebenarnya pikiran gadis itu entah berada dimana. Tatapannya nelangsa dan seperti tak bernyawa.
Perlahan pintu itu terbuka, seseorang masuk, cowok. Dia tersenyum kepada sherrin yang kini menatapnya, masih dengan tatapan hampa. Cowok itu mendekatinya dan duduk di hadapannya, di tempat tidur rumah sakit yang sama. Masih sambil tersenyum, dia membelai lembut pipi sherrin yang pucat.
“Apa yang terjadi ?”tanya cowok itu. sherrin menatap cowok itu.
“Kakak ”panggilnya.
“Hm?”respon sang cowok.
“Sepertinya memang aku yang melakukan semua itu.”ucap Sherrin pelan, hampir tak bersuara. Cowok itu menggeleng kuat.
“Tidak! Itu bukan dirimu, bukan kamu yang melakukan semua itu!”serunya pelan namun tegas.
“Tapi...tapi...polisi bilang, seluruh sidik jariku ada disana, aku orang terakhir yang bersamanya dan aku tidak memiliki alibi lain. Setelah kupikir, mungkin memang benar aku yang melakukannya. Akulah yang telah memb-.....”ucapan Sherrin terpotong saat cowok itu memeluknya erat.
“Ssshhhh....Kubilang bukan kamu, itu artinya bukan kamu! Kamu hanya perlu percaya padaku!”Sherrin mengangguk dalam pelukan sang cowok. Kemudian terdengar ketukan pintu, mereka melepaskan pelukan. Seorang perawat masuk.
“Pak vino ? Dokter ingin bertemu dengan Anda.”ujar sang perawat. Vino mengangguk mengiyakan dan berkata dia akan segera menemui sang dokter.
“Aku menemui dokter dulu ya ?”pamit Vino pelan, setelah sang perawat pergi. Vino membenarkan anak rambut Sherrin. Sherrin mengangguk setuju sambil tersenyum. Vino mencium dahi Sherri lembut lalu keluar dari kamar. Dibalik pintu, setelah memastikan pintu benar-benar tertutup, Vino bersandarpada pintu. Perlahan dia menjatuhkan dirinya hingga terduduk. Dia tidak memperdulikan orang yang lalu lalang, atau dua orang polisi yang berjaga di depan pintu kamar Sherrin di rawat.
“Kenapa semua ini terjadi ?”Vino bertanya pada dirinya sendiri. Dia menarik kedua lututnya lalu memeluknya. Dia menelungkupkan wajahnya dan mulai menangis. Dia tidak mungkin menangis di hadapan Sherrin. Tapi, di hadapan orang lain, dia bisa. Siapa saja, asal bukan Sherrin.
=Diruang dokter=
“Itu bukan dia, bukan Sherrin yang kucintai. Sherrin yang kucintai tidak mungkin melakukan hal itu. Sherrin yang kucintai dan mencintaiku adalah cewek yang lembut dan penyayang.”ujar Vino dengan nada marah dan kesal. Dokter yang duduk di hadapannya mengangguk paham.
“Itu memang bukan dia. Sherrin mengidap penyakit mental yang dinamakan dissociative identity disorder atau kepribadian ganda.”jelas sang dokter.
“Apa ?”Vino tergelak irony “Gak mungkin! Sherrin tidak mungkin mengidap penyakit seperti itu!”bantah Vino langsung.
“Mungkin dia tidak menunjukkannya di depan Anda, tapi Sherrin mengakui segalanya ketika tadi saya meneraphy-nya.”akui sang dokter. Vino memandang sang dokter dengan tatapan ragu. “Kalau Anda tidak percaya, saya akan menunjukkannya.”dokter itu lalu mengaktifkan laptopnya dan setelah beberapa saat kemudian muncul scene Sherrin yang sedang diwawancara oleh sang dokter. Vino memperhatikan dengan seksama.
=sesi wawancara=
“Baiklah kita mulai ya Sherrin?”ujar dokter.
“Nama saya bukan Sherrin!”jawab Sherrin ketus.
“Oh, maafkan saya, lantas kalau boleh saya tahu, siapa nama anda?”tanya sang dokter kemudian.
“Aiko.”jawab Sherrin singkat.Dokter itu mengangguk.
“Aiko, bisa beritahu saya, menurut Aiko, kenapa kita ada di ruangan ini?”tanya dokter itu lagi.
“Hmmm...”Sherrin berpikir sejenak, lalu tersenyum geli.”Karena saya membunuh Rio ! Hahahahaha.”lalu Sherrin tertawa, seakan itu hal yang sangat lucu.Sherrin kemudian terdiam dan menatap pada dokter. “Dan karena saya dianggap gila, makanya Anda mewawancarai saya. Iya kan?”gantian Sherrin yang bertanya. Si dokter tersenyum.
“Oh ya? Kenapa Aiko beranggapan bahwa kami menganggap Aiko gila?”Sherrin tersenyum sinis.
“Dokter, aku bukan cewek bodoh. Aku bukan cewek lemah dan lugu seperti Sherrin. Aku tahu dokter cuma ingin menganalisaku saja.”sindir Aiko tajam.
“Aiko kenal dengan Sherrin?”dokter mencoba memfokuskan Sherrin.
“Tentu saja, dia adalah orang terlugu, terlembut dan sangat baik hati yang pernah ku kenal. Walau aku heran kenapa dia mau bekerja menjadi guru tk! Padahal anak-anak itu begitu nakal, cengeng dan merepotkan! Aku benci anak-anak!”desisnya kasar.
“Kalau begitu, Aiko juga kenal Rio ?” Sherrin memutar bola matanya kesal.
“Ya iyalah! Kan aku yang bunuh cowok bodoh itu!”
“Bodoh?”
“Iya! Dia bodoh! Aku sebal padanya!”
“Kenapa?”
“Dia bodoh karena dia menyukai Sherrin, padahal dia tahu bahwa Sherrin bersama Vino dan aku sebal padanya karena meski begitu dia tidak menyerah pada Sherrin! Makanya! Kubunuh saja dia!”jelas Sherrin tanpa beban.
“Jadi, Aiko membunuh Rio karena, Aiko merasa Rio akan mengancam hubungan Sherrin dan Vino?”dokter mencoba menarik benang merah dari cerita Sherrin. Sherrin mengangguk.
“Kan sudah kubilang, Sherrin itu orangnya baik banget, jadi gak sadar kalau si kunyuk Rio itu sedang berusaha menjauhkannya dari Vino. Dan Vino juga bodoh, percaya aja sama tetangga yang baru dikenalnya itu! Makanya aku yang bertindak! Aku benci orang bodoh!”makinya ketus.
=sesi wawancara-pause=
Dokter menekan tombol pause pada laptopnya, dia kini memandangi Vino. Cowok itu kini wajahnya pucat, keringat dingin tampak di dahinya. Tangannya gemetar dan matanya memerah, hendak menangis lagi. Tapi Vino menahannya, dia tidak ingin menangis sekarang. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya pada sang dokter.
“Itu tetap bukan Sherrin!”ujarnya.
“Benar! Itu Aiko, bukan Sherrin. Aiko adalah kepribadian yang hidup dalam pikiran Sherrin.”seru si dokter.
“Tapi, aku tidak pernah bertemu ‘Aiko’.”Vino bingung.
“Anda yakin?”tanya dokter. Vino berpikir sejenak.
=Kembali pada masa lalu=
“Kakak! Aku mau eskrim!”pinta Sherrin manja.
“Baiklah! Akan kubelikan!”Vino pergi sejenak lalu kembali membawakan eskrim rasa coklat, kesukaan Sherrin dan langsung menyodorkannya pada Sherrin. Tapi, Sherrin justru menepis tangan Vino kasar sehingga eskrim itu jatuh dan kotor.
“Sherrin, kenapa?”tanya Vino heran.Sherrin sekilas tadi terlihat marah dan benci memandang eskrim coklat itu. Tapi sesaat kemudian dia membelalakkan matanya.
“oh ya ampun, kakak! Kenapa eskrimnya dijatuhkan? Sayang kan!”katanya dengan nada sedikit menyesal. Vino heran dan hanya menatap Sherrin. Sherrin yang menjatuhkan? Jelas-jelas Sherrin yang menepis tangannya. “Tangan kakak licin ya? Sampai-sampai eskrimnya jatuh gitu. Ya sudah, aku pergi beli sendiri. Sebentar ya.”Sherrin meninggalkan Vino yang masih bingung.
Lain waktu....
“Sherrin, sudah siap?”tanya Vino saat pulang kerja.
“Siap? Siap apanya?” Sherrin menatap Vino heran.
“Lho? Bukankah kamu menelponku tadi, kamu bilang mau makan malam di luar?”Vino mendekati Sherrin dan memeluknya dari belakang. “Kamu lupa? Atau hanya ingin menggodaku?”Vino berbisik di telinga Sherrin lalu dia mencium pipi Sherrin.
“Tidak, aku tidak ingat kalau aku menelpon kakak hari ini, karena kupikir kakak sibuk dan aku tidak ingin mengganggu kakak.”Sherrin membalikkan badannya menghadap Vino. Sherrin berkata jujur, karena Vino bisa melihat kalau Sherrin sendiri bingung.
“Kalau begitu ya sudah, lupakan saja, kita makan malam saja di luar sekarang, aku sudah terlanjur memesan tempat.”usul Vino dan memberikan ciuman di kening Sherrin. “I miss you so much!”ucapnya. Sherrin tersenyum.
“Bilang saja kalau kakak mau ngajak makan di luar! Gak perlu pake ngarang gitu kan! Jadi aneh tauk.”Sherrin melepaskan pelukan mereka.”Aku siap-siap dulu ya, tunggu sebentar.”lagi-lagi Sherrin meninggalkan Vino dengan kebingungan, Vino yakin sekali, Sherrinlah yang menelponnya untuk makan malam itu, bukan sebaliknya.
=Kembali diruang dokter=
“Sekarang Anda percaya?”tanya sang dokter menyadarkan Vino dari lamunannya.
“.....”Vino tidak sanggup membantah lagi.
“Saya tahu Anda terkejut dan tidak menyangka sebelumnya, namun saya memiliki hipotesis. Sepertinya Rio yang paling sering bertemu ‘Aiko’ karena dari keterangan polisi yang sedikit diinformasikan kepada saya, di ponselnya Rio, caller ID Sherrin tercatat sebagai Aiko.”jelas si dokter.
“Dokter, jika memang, ‘Aiko’ membenci orang bodoh, kenapa dia tidak membunuh saya? Bukankah tadi dia bilang bahwa saya bodoh?”tanya Vino pelan. Dokter itu tersenyum dan menekan tombol play pada laptopnya.
=sesi wawancara dilanjutkan=
“Bukankah Vino juga bodoh? Kenapa dia tidak dibunuh juga?”tanya dokter. Sherrin menunduk.
“Iya, dia cowok terbodoh yang pernah kukenal. Tapi dia juga baik, dia juga lembut, dia juga romantis. Walau kadang dia rada telmi dan kurang peka. Namun, dia yang seperti itu yang cocok dengan Shrrin. Karena Sherrin mencintainya, aku tidak bisa membunuhnya. Dan karena aku sayang pada Sherrin sekaligus aku juga mencintai Vino.”Sherrin mengangkat wajahnya yang kini penuh air mata.
=sesi wawancara selesai=
Vino memutuskan untuk merawat Sherrin di villanya. Jauh dari keramaian kota dan jauh dari siapapun. Hanya dia dan Sherrin. Rio meminta tim pengacaranya mengurus kasus Sherrin. Sedangkan kepada dokter, Vino berjanji akan merawat Sherrin, tidak akan meninggalkan Sherrin sedetikpun. Dan dia berhasil, perlahan tapi pasti kondisi Sherrin membaik. Meskipun itu artinya, tak ada perbedaan berbeda antara Sherrin yang dulu dengan Sherrin yang sekarang.
“Sherrin ! Dinner is ready!!!”panggil Vino dari dapur. Sherrin keluar dari kamar tidur mereka, menuju dapur dan langsung memeluk Vino dari belakang. Vino yang masih sibuk memindahkan makanan dari penggorengan ke piring, tersenyum bahagia.
“Hmm....Smells good.”komen Sherrin yang menelungkupkan wajahnya di punggung Vino.
“Tentu saja, aku kan koki yang hebat.”sahut Vino pede.
“Bukan makanannya, tapi kamu.”seru Sherrin dengan nada menggoda. Senyum Vino makin terkembang.
“Really?”Vino membalikkan badannya dan menatap Sherrin dengan pandangan tak kalah menggoda. Sherrin mengangguk manja sambil tersenyum. Vino lalu menggendong Sherrin kembali ke kamar mereka, menunda makan malam mereka, bahkan membatalkan makan malam mereka.
Keesokan paginya.....
“Arghhhhhh!!!!”
Vino tersentak dan langsung terbangun mendengar teriakan keras Sherrin. Vino kaget melihat Sherrin berada di sudut kamar, berantakan, terbalut dengan hanya selimut putih di tubuhnya. Top sendiri cuma menganakan celana pendek tidurnya. Dia bingung melihat Sherrin yang pucat, menangis dengan tubuh gemetaran.
“Sherrin? Kenapa? Apa yang terjadi?Kenapa sherin ?”tanyanya panik. Sherrin menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya menatap Vino dengan penuh rasa takut. Vino merasakan hatinya sakit menyadari Sherrin sedang ketakutan, padanya.
“Siapa kamu? Aku gag kenal kamu?”tanya Sherrin dengan suara bergetar. Vino kaget, bagaimana mungkin Sherrin bertanya itu? Mereka sudah berkenalan selama hampir 7 tahun. Dari awal kuliah, sampai akhirnya mereka memiliki pekerjaan masing-masing. 7 tahun yang seharusnya tak terlupakan. 7 tahun yang jika diuraikan, 2 tahun bersahabat lalu berpacaran dan memutuskan hidup bersama.
“Kmu tidak kenal saya?,”ucap Vino pela.”Saya Vino Aldiano.”dia perlahan turun dari tempat tidur, mendekati Sherrin. Namun Sherrin terlihat panik.
“Pergi!! Aku gak kenal kamu!! Pergi!!!”pekiknya semakin takut. “Argggh!!!”
“Ok! Ok! Tenang Sherrin! Tenang.”bujuk Vino sambil menjaga jarak supaya Sherrin nyaman dan tidak ketakutan lagi dengannya.
“Kamu jahat!! Kamu jahat!! Apa yang kamu lakukan padaku???!!!”ucap Sherrin histeris, dia lalu jatuh berjongkok sambil memegangi kepalanya, berusaha menutupi kepalanya.
“Sherrin, tenang, jangan seperti ini.”Vino jadi benar-benar bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hal pertama yang terpikir adalah menelpon sang dokter. Dan beberapa saat kemudian mobil ambulan datang beserta dokter dan beberapa perawat.
“Anda absen memberikannya obat bukan?”tebak sang dokter saat mereka semua sudah kembali ke rumah sakit, rumah sakit jiwa.
“Kami melewatkan makan malam, kami...”Vino tidak melanjutkan kata-katanya karena dia yakin si dokter pasti mengerti.
“Dia bilang kamu memperkosanya.”ujar sang dokter.
“Apa? Mana mungkin aku-…“
“Tentu saja hal itu tidak mungkin, tapi yang ingin saya jelaskan adalah semalam yang bersamamu itu Sherrin tapi pagi ini, ketika terbangun, dia bukan lagi Sherrin .”ungkap sang dokter.
“Maksud dokter, Aiko?”tanya Vino, dokter itu menggeleng.
“Saya juga tidak tahu dia siapa. Saya belum mewawancarainya, tapi yang jelas, dia bukan Sherrin atau Aiko. Dia karakter baru, dan dia tidak mengenalmu.”dokter memberikan analisa terbarunya.
Vino mengerti sekarang, kenapa Sherrin bersikap seperti itu. Dia lupa memberikan obat pada Sherrin. Sehingga segalanya harus berakhir seperti ini.
“Tidak! Ini tidak boleh berakhir seperti ini! Aku tidak bisa jauh dari Sherrin! Aku tidak bisa membiarkan Sherrin di rawat di sini, bukan karena tidak tega pada Sherrin, tapi aku tidak bisa jauh darinya!”pekik Vino dalam hati. Dia lalu berlari mencari Sherrin, dia mengelilingi gedung rumah sakit jiwa itu. Mencari sosok yang sangat dicintainya itu.
Sherrin sedang duduk di taman yang asri dan memang dikhususkan untuk para pasien sabagai tempat bersantai. Sherrin duduk di rerumputan hijau, mengenakan longdress simple barwarna putih selutut. Sherrin duduk memeluk lututnya.
“Kamu tetap cantik seperti biasanya ya.”puji Vino tanpa sadar. Dia mendekati Sherrin tanpa Sherrin sadari. Sherrin terlalu sibuk dengan dunianya, bahkan ketika Vino ikut duduk di depannya, Sherrin tidak menyadarinya.
“Sayang.”panggil Vino lembut. Sherrin kaget sejenak, dia menatap Vino dalam-dalam. Lalu matanya mulai menunjukkan rasa takut dan benci. Tatapan yang belum pernah ditujukan pada Vino sebelumnya.
“Kamu!”bentak Sherrin marah. “Kamu yang memperkosaku!”katanya mulai panik. Vino memegangi bahu Sherrin lembut, berusaha menenangkan Sherrin.
“ Maaf, maaf kalau aku bersalah padamu. Maaf karena aku menyakitimu. Maaf.”mohon Vino setengah mengiba.”Kamu boleh membenciku, boleh tidak suka padaku. Tapi kumohon.....”suara Vino bergetar menahan tangisnya.”Jangan jauh dariku, jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa tanpamu, Kumohon”Vino mengeluarkan handphonenya, menunjukkan foto-foto mereka dan video mereka bersama. “Ini kita, aku dan kamu.”ujar Vino, berusaha mengembalikan ingatan Vino.
“Apapaan ini!”Sherrin mencampak handphone Vino, membuatnya terpelanting jauh. Vino mengehela nafas, jantungnya terasa sakit.
“Sherrin, percaya padaku. Aku tidak akan menyakitimu, aku tidak mungkin melakukannya.”Vino membelai lembut pipi Sherrin. Anehnya, meskipun Sherrin menatapnya penuh rasa benci tapi Sherrin tidak menolak sentuhan lembut dari Vino. merasa familiar dengan sentuhan-sentuhan itu. “Sherrin, kamu tahu kan, kamu adalah alasan utama aku tetap bernafas, jantungku tetap berdetak dan aku tetap menjalani hidup? Kamu alasannya! Kamu!.”Vino mulai lepas kendali. Perasaannya campur aduk, antara marah, kesal, sedih, putus asa dan lainnya.
“Kamu jahat padaku! Kamu orang terjahat yang kutemui!”ujar Sherrin sinis dan marah. Vino tidak mampu menahan tangisnya lagi, dia menangis dihadapan Sherrin. Menumpahkan segala apa yang ditahannya. Biasanya Sherrin akan memeluknya ketika Vino sedang sedih atau kesal, Sherrin akan berusaha menenangkannya tapi kini tidak. Sherrin mendorong Vino kasar. “Cengeng!”ucapnya. Sherrin lalu bangkit dan berjalan menuju air mancur di tengah taman. Vino ikut bangkit, namun bukan untuk mengikuti Sherrin, dia berbalik, menghapus airmatanya lalu mulai melangkah pulang.
‘Ku ingin selamanya, mencintai dirimu sampai saat kuakan menutup mata dah hidupku’
Langkah Vino terhenti, dia mendengar dengan jelas Sherrin menyenandungkan lagu itu, lagu mereka. Vino berbalik lagi, melihat Sherrin duduk di pinggir air kolam air mancur, memainkan air, masih dengan menyenandungkan lagu itu. Vino berlari dan memeluk Sherrin yang kaget dengan pelukan yang itba-tiba.
“Kumohon ingat lagu ini”
“Itu bukan dia, bukan Sherrin yang kucintai. Sherrin yang kucintai tidak mungkin melakukan hal itu. Sherrin yang kucintai dan mencintaiku adalah cewek yang lembut dan penyayang.”ujar Vino dengan nada marah dan kesal. Dokter yang duduk di hadapannya mengangguk paham.
“Itu memang bukan dia. Sherrin mengidap penyakit mental yang dinamakan dissociative identity disorder atau kepribadian ganda.”jelas sang dokter.
“Apa ?”Vino tergelak irony “Gak mungkin! Sherrin tidak mungkin mengidap penyakit seperti itu!”bantah Vino langsung.
“Mungkin dia tidak menunjukkannya di depan Anda, tapi Sherrin mengakui segalanya ketika tadi saya meneraphy-nya.”akui sang dokter. Vino memandang sang dokter dengan tatapan ragu. “Kalau Anda tidak percaya, saya akan menunjukkannya.”dokter itu lalu mengaktifkan laptopnya dan setelah beberapa saat kemudian muncul scene Sherrin yang sedang diwawancara oleh sang dokter. Vino memperhatikan dengan seksama.
=sesi wawancara=
“Baiklah kita mulai ya Sherrin?”ujar dokter.
“Nama saya bukan Sherrin!”jawab Sherrin ketus.
“Oh, maafkan saya, lantas kalau boleh saya tahu, siapa nama anda?”tanya sang dokter kemudian.
“Aiko.”jawab Sherrin singkat.Dokter itu mengangguk.
“Aiko, bisa beritahu saya, menurut Aiko, kenapa kita ada di ruangan ini?”tanya dokter itu lagi.
“Hmmm...”Sherrin berpikir sejenak, lalu tersenyum geli.”Karena saya membunuh Rio ! Hahahahaha.”lalu Sherrin tertawa, seakan itu hal yang sangat lucu.Sherrin kemudian terdiam dan menatap pada dokter. “Dan karena saya dianggap gila, makanya Anda mewawancarai saya. Iya kan?”gantian Sherrin yang bertanya. Si dokter tersenyum.
“Oh ya? Kenapa Aiko beranggapan bahwa kami menganggap Aiko gila?”Sherrin tersenyum sinis.
“Dokter, aku bukan cewek bodoh. Aku bukan cewek lemah dan lugu seperti Sherrin. Aku tahu dokter cuma ingin menganalisaku saja.”sindir Aiko tajam.
“Aiko kenal dengan Sherrin?”dokter mencoba memfokuskan Sherrin.
“Tentu saja, dia adalah orang terlugu, terlembut dan sangat baik hati yang pernah ku kenal. Walau aku heran kenapa dia mau bekerja menjadi guru tk! Padahal anak-anak itu begitu nakal, cengeng dan merepotkan! Aku benci anak-anak!”desisnya kasar.
“Kalau begitu, Aiko juga kenal Rio ?” Sherrin memutar bola matanya kesal.
“Ya iyalah! Kan aku yang bunuh cowok bodoh itu!”
“Bodoh?”
“Iya! Dia bodoh! Aku sebal padanya!”
“Kenapa?”
“Dia bodoh karena dia menyukai Sherrin, padahal dia tahu bahwa Sherrin bersama Vino dan aku sebal padanya karena meski begitu dia tidak menyerah pada Sherrin! Makanya! Kubunuh saja dia!”jelas Sherrin tanpa beban.
“Jadi, Aiko membunuh Rio karena, Aiko merasa Rio akan mengancam hubungan Sherrin dan Vino?”dokter mencoba menarik benang merah dari cerita Sherrin. Sherrin mengangguk.
“Kan sudah kubilang, Sherrin itu orangnya baik banget, jadi gak sadar kalau si kunyuk Rio itu sedang berusaha menjauhkannya dari Vino. Dan Vino juga bodoh, percaya aja sama tetangga yang baru dikenalnya itu! Makanya aku yang bertindak! Aku benci orang bodoh!”makinya ketus.
=sesi wawancara-pause=
Dokter menekan tombol pause pada laptopnya, dia kini memandangi Vino. Cowok itu kini wajahnya pucat, keringat dingin tampak di dahinya. Tangannya gemetar dan matanya memerah, hendak menangis lagi. Tapi Vino menahannya, dia tidak ingin menangis sekarang. Ada banyak hal yang ingin ditanyakannya pada sang dokter.
“Itu tetap bukan Sherrin!”ujarnya.
“Benar! Itu Aiko, bukan Sherrin. Aiko adalah kepribadian yang hidup dalam pikiran Sherrin.”seru si dokter.
“Tapi, aku tidak pernah bertemu ‘Aiko’.”Vino bingung.
“Anda yakin?”tanya dokter. Vino berpikir sejenak.
=Kembali pada masa lalu=
“Kakak! Aku mau eskrim!”pinta Sherrin manja.
“Baiklah! Akan kubelikan!”Vino pergi sejenak lalu kembali membawakan eskrim rasa coklat, kesukaan Sherrin dan langsung menyodorkannya pada Sherrin. Tapi, Sherrin justru menepis tangan Vino kasar sehingga eskrim itu jatuh dan kotor.
“Sherrin, kenapa?”tanya Vino heran.Sherrin sekilas tadi terlihat marah dan benci memandang eskrim coklat itu. Tapi sesaat kemudian dia membelalakkan matanya.
“oh ya ampun, kakak! Kenapa eskrimnya dijatuhkan? Sayang kan!”katanya dengan nada sedikit menyesal. Vino heran dan hanya menatap Sherrin. Sherrin yang menjatuhkan? Jelas-jelas Sherrin yang menepis tangannya. “Tangan kakak licin ya? Sampai-sampai eskrimnya jatuh gitu. Ya sudah, aku pergi beli sendiri. Sebentar ya.”Sherrin meninggalkan Vino yang masih bingung.
Lain waktu....
“Sherrin, sudah siap?”tanya Vino saat pulang kerja.
“Siap? Siap apanya?” Sherrin menatap Vino heran.
“Lho? Bukankah kamu menelponku tadi, kamu bilang mau makan malam di luar?”Vino mendekati Sherrin dan memeluknya dari belakang. “Kamu lupa? Atau hanya ingin menggodaku?”Vino berbisik di telinga Sherrin lalu dia mencium pipi Sherrin.
“Tidak, aku tidak ingat kalau aku menelpon kakak hari ini, karena kupikir kakak sibuk dan aku tidak ingin mengganggu kakak.”Sherrin membalikkan badannya menghadap Vino. Sherrin berkata jujur, karena Vino bisa melihat kalau Sherrin sendiri bingung.
“Kalau begitu ya sudah, lupakan saja, kita makan malam saja di luar sekarang, aku sudah terlanjur memesan tempat.”usul Vino dan memberikan ciuman di kening Sherrin. “I miss you so much!”ucapnya. Sherrin tersenyum.
“Bilang saja kalau kakak mau ngajak makan di luar! Gak perlu pake ngarang gitu kan! Jadi aneh tauk.”Sherrin melepaskan pelukan mereka.”Aku siap-siap dulu ya, tunggu sebentar.”lagi-lagi Sherrin meninggalkan Vino dengan kebingungan, Vino yakin sekali, Sherrinlah yang menelponnya untuk makan malam itu, bukan sebaliknya.
=Kembali diruang dokter=
“Sekarang Anda percaya?”tanya sang dokter menyadarkan Vino dari lamunannya.
“.....”Vino tidak sanggup membantah lagi.
“Saya tahu Anda terkejut dan tidak menyangka sebelumnya, namun saya memiliki hipotesis. Sepertinya Rio yang paling sering bertemu ‘Aiko’ karena dari keterangan polisi yang sedikit diinformasikan kepada saya, di ponselnya Rio, caller ID Sherrin tercatat sebagai Aiko.”jelas si dokter.
“Dokter, jika memang, ‘Aiko’ membenci orang bodoh, kenapa dia tidak membunuh saya? Bukankah tadi dia bilang bahwa saya bodoh?”tanya Vino pelan. Dokter itu tersenyum dan menekan tombol play pada laptopnya.
=sesi wawancara dilanjutkan=
“Bukankah Vino juga bodoh? Kenapa dia tidak dibunuh juga?”tanya dokter. Sherrin menunduk.
“Iya, dia cowok terbodoh yang pernah kukenal. Tapi dia juga baik, dia juga lembut, dia juga romantis. Walau kadang dia rada telmi dan kurang peka. Namun, dia yang seperti itu yang cocok dengan Shrrin. Karena Sherrin mencintainya, aku tidak bisa membunuhnya. Dan karena aku sayang pada Sherrin sekaligus aku juga mencintai Vino.”Sherrin mengangkat wajahnya yang kini penuh air mata.
=sesi wawancara selesai=
Vino memutuskan untuk merawat Sherrin di villanya. Jauh dari keramaian kota dan jauh dari siapapun. Hanya dia dan Sherrin. Rio meminta tim pengacaranya mengurus kasus Sherrin. Sedangkan kepada dokter, Vino berjanji akan merawat Sherrin, tidak akan meninggalkan Sherrin sedetikpun. Dan dia berhasil, perlahan tapi pasti kondisi Sherrin membaik. Meskipun itu artinya, tak ada perbedaan berbeda antara Sherrin yang dulu dengan Sherrin yang sekarang.
“Sherrin ! Dinner is ready!!!”panggil Vino dari dapur. Sherrin keluar dari kamar tidur mereka, menuju dapur dan langsung memeluk Vino dari belakang. Vino yang masih sibuk memindahkan makanan dari penggorengan ke piring, tersenyum bahagia.
“Hmm....Smells good.”komen Sherrin yang menelungkupkan wajahnya di punggung Vino.
“Tentu saja, aku kan koki yang hebat.”sahut Vino pede.
“Bukan makanannya, tapi kamu.”seru Sherrin dengan nada menggoda. Senyum Vino makin terkembang.
“Really?”Vino membalikkan badannya dan menatap Sherrin dengan pandangan tak kalah menggoda. Sherrin mengangguk manja sambil tersenyum. Vino lalu menggendong Sherrin kembali ke kamar mereka, menunda makan malam mereka, bahkan membatalkan makan malam mereka.
Keesokan paginya.....
“Arghhhhhh!!!!”
Vino tersentak dan langsung terbangun mendengar teriakan keras Sherrin. Vino kaget melihat Sherrin berada di sudut kamar, berantakan, terbalut dengan hanya selimut putih di tubuhnya. Top sendiri cuma menganakan celana pendek tidurnya. Dia bingung melihat Sherrin yang pucat, menangis dengan tubuh gemetaran.
“Sherrin? Kenapa? Apa yang terjadi?Kenapa sherin ?”tanyanya panik. Sherrin menggeleng-gelengkan kepalanya, matanya menatap Vino dengan penuh rasa takut. Vino merasakan hatinya sakit menyadari Sherrin sedang ketakutan, padanya.
“Siapa kamu? Aku gag kenal kamu?”tanya Sherrin dengan suara bergetar. Vino kaget, bagaimana mungkin Sherrin bertanya itu? Mereka sudah berkenalan selama hampir 7 tahun. Dari awal kuliah, sampai akhirnya mereka memiliki pekerjaan masing-masing. 7 tahun yang seharusnya tak terlupakan. 7 tahun yang jika diuraikan, 2 tahun bersahabat lalu berpacaran dan memutuskan hidup bersama.
“Kmu tidak kenal saya?,”ucap Vino pela.”Saya Vino Aldiano.”dia perlahan turun dari tempat tidur, mendekati Sherrin. Namun Sherrin terlihat panik.
“Pergi!! Aku gak kenal kamu!! Pergi!!!”pekiknya semakin takut. “Argggh!!!”
“Ok! Ok! Tenang Sherrin! Tenang.”bujuk Vino sambil menjaga jarak supaya Sherrin nyaman dan tidak ketakutan lagi dengannya.
“Kamu jahat!! Kamu jahat!! Apa yang kamu lakukan padaku???!!!”ucap Sherrin histeris, dia lalu jatuh berjongkok sambil memegangi kepalanya, berusaha menutupi kepalanya.
“Sherrin, tenang, jangan seperti ini.”Vino jadi benar-benar bingung. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Hal pertama yang terpikir adalah menelpon sang dokter. Dan beberapa saat kemudian mobil ambulan datang beserta dokter dan beberapa perawat.
“Anda absen memberikannya obat bukan?”tebak sang dokter saat mereka semua sudah kembali ke rumah sakit, rumah sakit jiwa.
“Kami melewatkan makan malam, kami...”Vino tidak melanjutkan kata-katanya karena dia yakin si dokter pasti mengerti.
“Dia bilang kamu memperkosanya.”ujar sang dokter.
“Apa? Mana mungkin aku-…“
“Tentu saja hal itu tidak mungkin, tapi yang ingin saya jelaskan adalah semalam yang bersamamu itu Sherrin tapi pagi ini, ketika terbangun, dia bukan lagi Sherrin .”ungkap sang dokter.
“Maksud dokter, Aiko?”tanya Vino, dokter itu menggeleng.
“Saya juga tidak tahu dia siapa. Saya belum mewawancarainya, tapi yang jelas, dia bukan Sherrin atau Aiko. Dia karakter baru, dan dia tidak mengenalmu.”dokter memberikan analisa terbarunya.
Vino mengerti sekarang, kenapa Sherrin bersikap seperti itu. Dia lupa memberikan obat pada Sherrin. Sehingga segalanya harus berakhir seperti ini.
“Tidak! Ini tidak boleh berakhir seperti ini! Aku tidak bisa jauh dari Sherrin! Aku tidak bisa membiarkan Sherrin di rawat di sini, bukan karena tidak tega pada Sherrin, tapi aku tidak bisa jauh darinya!”pekik Vino dalam hati. Dia lalu berlari mencari Sherrin, dia mengelilingi gedung rumah sakit jiwa itu. Mencari sosok yang sangat dicintainya itu.
Sherrin sedang duduk di taman yang asri dan memang dikhususkan untuk para pasien sabagai tempat bersantai. Sherrin duduk di rerumputan hijau, mengenakan longdress simple barwarna putih selutut. Sherrin duduk memeluk lututnya.
“Kamu tetap cantik seperti biasanya ya.”puji Vino tanpa sadar. Dia mendekati Sherrin tanpa Sherrin sadari. Sherrin terlalu sibuk dengan dunianya, bahkan ketika Vino ikut duduk di depannya, Sherrin tidak menyadarinya.
“Sayang.”panggil Vino lembut. Sherrin kaget sejenak, dia menatap Vino dalam-dalam. Lalu matanya mulai menunjukkan rasa takut dan benci. Tatapan yang belum pernah ditujukan pada Vino sebelumnya.
“Kamu!”bentak Sherrin marah. “Kamu yang memperkosaku!”katanya mulai panik. Vino memegangi bahu Sherrin lembut, berusaha menenangkan Sherrin.
“ Maaf, maaf kalau aku bersalah padamu. Maaf karena aku menyakitimu. Maaf.”mohon Vino setengah mengiba.”Kamu boleh membenciku, boleh tidak suka padaku. Tapi kumohon.....”suara Vino bergetar menahan tangisnya.”Jangan jauh dariku, jangan tinggalkan aku, aku tidak bisa tanpamu, Kumohon”Vino mengeluarkan handphonenya, menunjukkan foto-foto mereka dan video mereka bersama. “Ini kita, aku dan kamu.”ujar Vino, berusaha mengembalikan ingatan Vino.
“Apapaan ini!”Sherrin mencampak handphone Vino, membuatnya terpelanting jauh. Vino mengehela nafas, jantungnya terasa sakit.
“Sherrin, percaya padaku. Aku tidak akan menyakitimu, aku tidak mungkin melakukannya.”Vino membelai lembut pipi Sherrin. Anehnya, meskipun Sherrin menatapnya penuh rasa benci tapi Sherrin tidak menolak sentuhan lembut dari Vino. merasa familiar dengan sentuhan-sentuhan itu. “Sherrin, kamu tahu kan, kamu adalah alasan utama aku tetap bernafas, jantungku tetap berdetak dan aku tetap menjalani hidup? Kamu alasannya! Kamu!.”Vino mulai lepas kendali. Perasaannya campur aduk, antara marah, kesal, sedih, putus asa dan lainnya.
“Kamu jahat padaku! Kamu orang terjahat yang kutemui!”ujar Sherrin sinis dan marah. Vino tidak mampu menahan tangisnya lagi, dia menangis dihadapan Sherrin. Menumpahkan segala apa yang ditahannya. Biasanya Sherrin akan memeluknya ketika Vino sedang sedih atau kesal, Sherrin akan berusaha menenangkannya tapi kini tidak. Sherrin mendorong Vino kasar. “Cengeng!”ucapnya. Sherrin lalu bangkit dan berjalan menuju air mancur di tengah taman. Vino ikut bangkit, namun bukan untuk mengikuti Sherrin, dia berbalik, menghapus airmatanya lalu mulai melangkah pulang.
‘Ku ingin selamanya, mencintai dirimu sampai saat kuakan menutup mata dah hidupku’
Langkah Vino terhenti, dia mendengar dengan jelas Sherrin menyenandungkan lagu itu, lagu mereka. Vino berbalik lagi, melihat Sherrin duduk di pinggir air kolam air mancur, memainkan air, masih dengan menyenandungkan lagu itu. Vino berlari dan memeluk Sherrin yang kaget dengan pelukan yang itba-tiba.
“Kumohon ingat lagu ini”
`Cinta adalah misteri dalam hidupku,Yang tak pernah kutau akhirnya
Namun tak seperti cintaku pada dirimu yang harus tergenapi dalam kisah hidup ku
“Kuingin selamanya mencintai dirimu sampai saat kuakan menutup mata dan hidupku , Kuingin selamaya ada disamping mu menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku”
Ku berharap abadi dalam hidupku, mencintamu bahagia untukku karena kasih ku hanya untuk dirimu selamanya kan tetap milikmu
“Kuingin selamanya mencintai dirimu sampai saat kuakan menutup mata dan hidupku, kingin selamaya ada disamping mu menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku”
Direlung, sukmamu ku melambungkan seluruh cintaku
Dihembus, nafasmu kuabadikan seluruh kasih dan sayang ku
“Kuingin selamanya mencintai dirimu sampai saat kuakan menutup mata dan hidupku, kingin selamaya ada disamping mu menyayangi dirimu sampai waktu kan memanggilku”`
Vino selesai melanjutkan nyanyian Sherrin dalam pelukan mereka. Vino pasrah sekarang, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Kalau kali ini Sherrin tetap menolaknya, maka dia juga akan jadi gila, gila karena cintanya pada Sherrin. Dengan demikian dia bisa ikut masuk ke rumah sakit jiwa ini, dan tetap bersama Sherrin.
“Kakak.”panggil Sherrin kemudian. Vino melepaskan pelukannya agar bisa menatap Sherrin.
“Siapa, Kmu panggil aku apa?”tanya Top cemas menatap mata Sherri. Rasa benci dan rasa takut Sherrin padanya sudah tidak ada lagi. Kini Sherrin menatapnya dengan pandangan penuh cinta, seperti biasanya.
“Kakak.”panggil Sherrin lagi. Vino tersenyum bahagia, dia mengangguk cepat.
“Ya! Ini Kakak! Orang yang Kamu sayang ! Ini kakak!”ujarnya senang. Dia memeluk Sherrin sekali lagi. Kali ini penuh dengan kebahagiaan, dia bahkan sudah lupa betapa menderitanya dia tadi. Hanya satu kata dari Sherrin, dan itu sudah membuatnya begitu bahagia. Dia tidak perduli lagi, meskipun dia harus menderita karena penyakit Sherrin atau apapun itu. Asalkan Sherrin mengingatnya, sekali saja, maka dia akan bertahan.
“Kakak, I LOVE U”
Vino selesai melanjutkan nyanyian Sherrin dalam pelukan mereka. Vino pasrah sekarang, dia tidak tahu lagi harus bagaimana. Kalau kali ini Sherrin tetap menolaknya, maka dia juga akan jadi gila, gila karena cintanya pada Sherrin. Dengan demikian dia bisa ikut masuk ke rumah sakit jiwa ini, dan tetap bersama Sherrin.
“Kakak.”panggil Sherrin kemudian. Vino melepaskan pelukannya agar bisa menatap Sherrin.
“Siapa, Kmu panggil aku apa?”tanya Top cemas menatap mata Sherri. Rasa benci dan rasa takut Sherrin padanya sudah tidak ada lagi. Kini Sherrin menatapnya dengan pandangan penuh cinta, seperti biasanya.
“Kakak.”panggil Sherrin lagi. Vino tersenyum bahagia, dia mengangguk cepat.
“Ya! Ini Kakak! Orang yang Kamu sayang ! Ini kakak!”ujarnya senang. Dia memeluk Sherrin sekali lagi. Kali ini penuh dengan kebahagiaan, dia bahkan sudah lupa betapa menderitanya dia tadi. Hanya satu kata dari Sherrin, dan itu sudah membuatnya begitu bahagia. Dia tidak perduli lagi, meskipun dia harus menderita karena penyakit Sherrin atau apapun itu. Asalkan Sherrin mengingatnya, sekali saja, maka dia akan bertahan.
“Kakak, I LOVE U”
Sherrin dan Vino hidup bahagia selamanya tanpa adanya gangguan dari penyakit sherrin,karana Vino selalu menjaga Sherrin dengan penuh kasih sayang,,
“satu kata yang ingin aku katakana pada kakak, “Terimakasih untuk semuanya kak, akau sayang kakak” kata sherrin dengan senyumnya yang tulus.
“ I LOVE U TOO” Jawab Vino dengan hati bahagia.
The End

